Rabu, 08 Desember 2010

KSDAHE

KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI & EKOSISTEM

(KSDAHE)

Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan. Oleh sebab itu linkungan perlu adanya suatu perawatan atau suatu pemulihan agar lingkungan tersebut tetap seimbang.

Pemeliharaan lingkungan sangat diperlukan adanya bahkan wajib hukumnya demi keseimbangan hidup. Oleh sebab itu timbulah sebuah ilmu yang dinamakan dengan konservasi, dari beberapa buku telah menjelaskan berbagai macam pengertian tentang konservasi bahwasannya Konservasi adalah : usaha pelestarian lingkungan hidup yang dilakukan oleh manusia. Jadi kalau kita uraikan mengenai penjelasan tentang konservasi sumber daya alam hayati adalah sebagai berikut :

1. Sumber daya alam hayati adalah : unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (Tumbuhan) dan sumber daya alam nabati (hewan/satwa) yang bersama dengan unsur non hayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem/.

2. Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap menjamin dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

3. Ekosistem sumber daya alam hayati adalah : sistem hubungan timbal balik antara unsur-unsur dalam alam baik hayati maupun non hayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi.

Melestarikan lingkungan hidup merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi dan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemimpin negara saja, melainkan tanggung jawab setiap insan di bumi, dari balita sampai manula. Setiap orang harus melakukan usaha untuk menyelamatkan lingkungan hidup di sekitar kita sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Sekecil apa pun usaha yang kita lakukan sangat besar manfaatnya bagi terwujudnya bumi yang layak huni bagi generasi anak cucu kita kelak.

Upaya pemerintah untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur bagi rakyatnya tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan ditindaklanjuti dengan menyusun program pembangunan berkelanjutan yang sering disebut sebagai pembangunan berwawasan lingkungan.

Pembangunan berwawasan lingkungan adalah usaha meningkatkan kualitas manusia secara bertahap dengan memerhatikan faktor lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan dikenal dengan nama Pembangunan Berkelanjutan.

Program konservasi di indonesia dilaksanakan dalam berbagai kegiatan seperti dibawah ini :

1. Kegiatan In situ : yakni perlindungan plasma nutfah, flora/fauna di habitat aslinya. Dalam hubungan ini telah ditargetkan menetapkan kawasan hutan dan kawasan lainnya seluas kurang lebih 10 % dari ekosistem alami sebagai kawasan “konservasi”. Kawasan konservasi dikenal sebagai kawasan suaka alam ( cagar alam kawasan pelestarian alam / taman nasional, hutan taman raya dan wisata alam)

2. Kegiatan Ex situ adalah : upaya pelestarian flora dan fauna di luar habitat aslinya. Dalam hal ini dikenal dengan penangkaan dan budidaya flora dan fauna, (kebun binatang dan taman safari).

3. Regulasi dan penegakkan hukum, adalah upaya mengatur pemanfaatan flora dan fauna secara bertanggung jawab. Kegiatan konkritnya berupa pengawasan lalu lintas flora dan fauna, penetapan quota dan penegakkan hukum serta pembuatan peraturan dan pembuatan undang-undang di bidang konservasi.

4. Peningkatan peran masyarakat, adalah upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam konservasi sumber daya alam hayati. Program ini dilaksanakan melalui kegiatan pendidikan dan penyuluhan. Dalam hubungan ini dikenal dengan adanya kelompok pecinta alam, kader konservasi, kelompok pelestari sumber daya alam, dan lain-lainnya.

Dalam program dan kegiatan tersebut diatas dapat disimpulkan penerapan konservasi indonesia melalui; perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis dan satwa beserta ekosistemnya serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Perjalanan alam bebas sekarang bukan lagi milik para pecinta alam, pendaki gunung, penempu rimba, atau pramuka semata. Orang lain ternyata juga membutuhkan alam bebas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun karena latar belakang yang berbeda seringkali orang tersebut hanya mau menjadi penikmat alam tanpa peduli bagaimana melestarikannya. Akhir-akhir ini para ahli konservasi semakin prihatin terhadap dampak kunjungan wisata alam. Lingkungan dapat menjadi rusak karena kunjungan yang berlebihan dan tidak terarah. Cagar alam dan taman nasional akan rusak jika tidak di lindungi dari tindakan pengunjung.

Berbeda dengan orang umum, para pecinta alam mempunyai nilai kepedulian terhadap kelestarian alam ini. Mereka memiliki prinsip-prinsip bersikap di alam bebas, sehingga kunjungan mereka seringkali mendukung kelestarian lingkungan hidup. Intensitas kunjungan yang tinggi secara tidak langsung memberikan banyak pengetahuan tentang alam bebas dan mereka kenal dengan alam bebas. Mereka peduli karena mereka tahu.

Suatu kebiasaan dan spontanitas yan heroik para pecinta alam, setelah melakukan perjalanan mereka menceritakan pengalaman dan pengetahuannya pada kawan-kawan, pacar atau orang lain. Suatu saat karena keinginan yang kuat untuk juga ikut untuk menikmati keindahan alam bebas, orang-orang akan berusaha untuk berkunjung (meski hanya sesaat), dengan segala kekhawatiran, ada apa, bagaimana dan pertanyaan lain tentang keadaan di alam bebas.

Ketika orang-orang melakukan kunjungan sesaat itu mereka berharap akan mendapatkan pengetahuan dan informasi sama dengan didapatkan para pecinta alam atau informasi yang sudah mereka dapatkan sebelumnya (lewat brosur semisalnya). Para pengunjung itu juga menginginkan rekreasi sambil dapat pengetahuan. Tapi apa mungkin pengetahuan yang mereka dapatkan sama dengan para pecinta alam, sementara intesitas kunjungan mereka berbeda?.

Tanpa pengetahuan dan pengalaman yang cukup pastilah mereka para pengunjung “instan” ini hanya akan melihat sebatang pohon tegak, berdaun, ada buahnya dan ada monyetnya bergelantungan tanpa tahu lebih banyak mengapa, bagaimana, untuk apa, apa nilai pentingnya dan berbagai informasi mendasar yang lain mengarahkan mereka untuk memiliki interes (kepedulian). Jika hanya itu yang mereka dapatkan saat mereka pulang mereka tidak akan dapat bercerita banyak seperti heroisme para pecinta alam. Saat ditanya tentang pengalaman bisa jadi mereka hanya bilang “apa Cuma lihat pohon dan monyet, capek dech!”

Kegiatan alam bebas yang dilakukan para pecinta alam tak mungki luput dari kegiatan demi terwujudnya tujuan konservasi. Sebagai bukti bahwasannya para pecinta alam bukan hanya sekedar menikmati alam, mereka membentuk sebuah kumpulan / pengetahuan divisi (gunung hutan, rock climbing, caving, rafting, dll). Tebentuknya sebuah divisi itu guna menunjang skill para pecinta alam agar dapat mengexplore semua yang akan dilakukan dalam kegiatan alam bebas agar tidak disebut sebagai pengunjung yang instan atau hanya sekedar penikmat alam.

Dari perjalanan alam bebas kita tidak akan luput dari pandangan akan adanya pohon (vegetasi), tanah, air dan fauna. Keempat unsure tersebut jelas keterkaitannya sangat erat sekali, karena unsur tersebut saling berkesinambungan seperti sebuah rantai kehidupan. Dalam berkonservasi langkah yang biasanya dilakukan adalah :

1. Pengamatan Kawasan

Pengamatan kawasaan baik secara menyeluruh ataupun hanya sebagian dari komponen ataupun fungsi kawasan akan menjadi modal untuk melakukan pengelolaan (konservasi kawasan). Mengamati kawasan adalah : melihat kawasan dengan cermat, lebih sungguh-sungguh, lebih teliti untuk memperoleh data.

Metode yang dilakukan dalam pengamatan kawasan adalah :

1. Observasi ; metode yang digunakan dalam pengamatan kawasan kali ini bertunjuan hanya sekedar untuk mengetahui kondisi atau keadaan kawasan tersebut. Missal : dengan sosped (sosiologi pedesaan atau sekedar dari membaca buku, dll)

2. Ilmiah / analisi ; metode yang digunakan dalam pengamatan kawasan ini jauh lebih rumit dan jeli karena metode ini bukan hanya sekedar ingin tahu tapi lebih memahami berbagai unsure-unsur yang terkandung didalamnya serta yang mempengaruhinya.

Sebagai salah satu contoh langkah-langkah yang harus dilakukan ketika akan melakukan suatu pengamatn kawasan adalah sebagai berikut :

- Melakukan pengamatan tentang keadaan sosial masyarakat

- Pengamatan flora & fauna; keberadaan vegetasi (yang mulai punah / langkah dan khusus).

- Pengamatan abiotik; air, udara dan tanah.

- Fotografi; ini berfungsi untuk mebandingkan hasil foto lingkungan dari tahun ke tahun yang selalu mengalami perubahan.

Dengan demikian pengamatan kawasan atau kegiatan konservasi tidak berarti harus di dalam “kawasan” atau hutan akan tetapi dapat dilakukan di wilayah pedesaan, perkotaan, kampus, pemukiman dan lain-lainnya.

Mengacu pada metode ilmiah, maka sistematika pengamatan meliputi : sadar masalah (latar belakang), rasa keingin tahuan (tujuan), belajar untuk menduga persoalan (hipotesisi), mengambil data (pelaksanaan), mengolah dan menganalisis data serta menyimpulkan.

Menengok dari sedikit gambaran diatas maka dapat disimpulkan dengan adanya pengamatan kawasan tersebut kita mungkin sedikit banyak mengetahui tentang :

1. Keadaan masyarakat sekitar

2. Keadaan fisik dan kimia kawasan tersebut

3. Keberadaan satwa di kawasan tersebut

4. Komponen atau macam-macam vegetasi pada kawasan tersebut, dll.

Sistematika pengamatan secara prinsip adalah sama baik untuk pengamatan kawasan atau pengamatan hanya pada sebagian komponennya, persoalannya lebih terletak pada macam dan kedalaman data yang mesti diperoleh sesuai dengan tujuannya, yang mana hal ini akan mempengaruhi metode yang digunakan.

2. Herbarium

Ketika dalam benkonservasi jelas tentu kita akan menemui suatu masalah bagaimana kita dapat mengetahui apa dan buat apa bahan atau data yang kita amati tersebut. Dengan pengelolaan hutan, data-data tentang potensi sangat penting artinya, untuk menentukan potensi hutan yang diperlukan pengetahuan tentang jenis pohon / tumbuhan dalam hutan tersebut. Mengingat mengenal jenis pohon sangatlah banyak jumlahnya, maka disaat inilah kita akan mengenal tentang istilah herbarium. Herbarium adalah : suatu pengawetan tumbuh-tumbuhan.

Bagian-bagian yang dipergunakan untuk membuat herbarium antara lain bagian generative (buah,bunga) dan bagian vegetative (daun, batang, akar).

Cara membuat Herbarium

A. Alat dan bahan

1. Alcohol 70%

2. Parang / pisau

3. Kapas

4. Kertas Koran

5. Isolasi

6. Bambu penjepit

7. Alat tulis

8. Karton

9. Plastic

10. Bagian vegetasi/tumbuhan yang akan di herbarium

B. Cara kerja

1. Mengumpulkan atau mengambil bagian tumbuhan yang akan di herbarium, usahakan langsung diambil dari pohonnya dan selengkap mungkin.

2. bagian tumbuhan yang diambil diolesi dengan alcohol 70% agar mikroorganisme (Jamur, bakteri) yang melekat akan mati sehingga dapat tahan lebih lama. Selanjutnya bagian tersebut ditempel di kertas karton dengan isolasi atau selotip, selanjutnya diletakkan diantara kertas Koran dan dijepit dengan bambu.

3. Bagian tumbuhan yang diambil tadi ditandai dan dicatat nama tanaman, habitat/lokasi, ukuran pohon, system percabangan, perakaran, dan tanggal pengambilan. (nantinya catatan ini dicantumkan sebagai lebel/etiket pada herbarium yang sudah jadi)

4. Dipasang lebel dan dibungkus plastic

3. Analisa Vegetasi

Vegetasi merupakan suatu perkumpulan / komunitas tumbuhan yang mempunyai habitat masing-masing. Analisa vgetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Analisa vegetasi sebagai cara memepelajari komposisi jenis-jenis tumbuhan penyusun hutan dan struktur horizontal maupun vertical vegetasi serta masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dilakukan secara kualitas dan kuantitatif.

Sedangkan metode yang biasanya digunakan dalam menganalisa vegetasi adalah :

1. Cara berpetak : a. Petak Tunggal

b. Petak berganda

c. Garis berpetak

2. Cara Tanpa petak : a. Bitterlich

b. Kuadran

c. cara jalur (Transek line)

d. Cara berpasangan

Dari beberapa metode tersebut, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan maupun kendala. Sehingga dalam pemilihan metode analisa vegetasi harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Tujuan : apa yang di inginkan peneliti atau yang menjadi tujuan menganalisa vegetasi.

2. Waktu : Apakah si peneliti punya banyak waktu atau terbatas.

3. Biaya : Apakah biaya yang digunakan / dikeluarkan memadai atau tidak.

4. Tenaga : Apakah tenaganya memungkinkan atau tidak.

5. Jenis dan macam data serta informasi, tiap type vegetasi dan habitat memiliki karakteristik sendiri sehingga diperlukan metode tersedia.

6. Kondisi vegetasi / lapangan, pengamatan pada areal terbuka akan berbeda dengan areal berhutan.

A. Kriteria Tegakan

Tegakan tumbuhan memiliki pembagian yang beragam, criteria yang digunakan sebagai acuan adalah :

- Sedling : tinggi (t) < ½ m

- Sapling : tinggi (t) ½ m – 2 m

- Poles : tinggi (t) > 2 m dengan diameter (d) <>

- Pohon : tinggi (t) > 2 m dengan diameter (d) ≥ 15 cm

B. Parameter

· Kerapatan (Densiti)

Jumlah individu yang dinyatakan dalam kesatuan ruang disebut kerapatan yang umumnya dinyatakan sebagai jumlah individu atau biomas populasi persatuan areal atau volume, secara kualitatif dibedakan menjadi jarang terdapat, kadang-kadang, seringkali terdapat dan banyak sekali terdapat. (Meru Betiri Service camp. PIPA :67)

· Dominan (Dominance)

Dominan dapat diartikan sebagai penguasaan dari suatu jenis terhadap jenis lain (bisa dalam hal ruang, cahaya, dll). Dominansi dapat dinyatakan dalam besaran :

1. Banyak individu (abudance) dan kerapatan (density)

2. Persen penutupan (cover persentase) dan luas bidang dasar (LBD) atau basal area (BA)

3. Volume

4. Indeks Nilai Penting

Dominasi yang digunakan adalah LBD. Dengan pertimbangan lebih muda dan cepat, yaitu dengan melakukan pengukuran diameter pohon pada ketinggian setinggi dada manusia pada umumnya.

· Frekuensi

Suatu jenis frekuensi memberikan gambaran bagaimana pola penyebaran suatu jenis. Apakah menyebar keseluruh kawasan atau kelompok.

· Indeks Nilai Penting (INP)

Gambaran lengkap mengenai karakter sosiologi suatu spesies dalam komunitas. Nilainya dari menjumlahkan nilai Kr, Dr dan Fr. Sehingga jumlah max 300 %.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

monggo sinau bareng

Pengikut

ebook

Download ebook gratis