BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Sudah barang tentu bahwasannya MAPALA TURSINA adalah salah satu organisasi yang selalu bergerak dalam bidang eksistensinya dalam pemerhati lingkungan. Oleh karena itu dalam organisasi ini dibentuk sebuah divisi yang bergerak khusus dibidang kelestarian alam, yang diberi nama dengan divisi Lingkungan hidup.
Didalam organisasi ini juga terdapat suatu tahapan-tahapan untuk memperoleh suatu jenjang keanggotaan, mulai dari anggota muda (AM) ke anggota biasa (AB), anggota kehormatan (AK), dan anggota luar biasa (ALB). Tak luput dari itu kegiatan spesialisasi ini diperuntukan untuk anggota muda menuju anggota biasa. Suatu hal yang sudah ditetapkan / diatur dalam AD/ART bahwasannya anngota muda menuju anggota biasa harus melewati satu tahapan yang disebut “Spesialisasi Divisi”.
Sudah menjadi suatu kewajiban bagi semua anggota MAPALA TURSINA untuk melakukan atau melaksanakan kegiatan ini. Salah satunya adalah divisi lingkungan hidup, dalam kegiatan ini juga dalam pelaksanaannya harus mengikuti standarisasi yang sudah ditentukan. Sedang untuk divisi lingkungan hidup mempunyai standarisasi diantaranya :
1. Melakukan pengamatan kawasan ± 100 m²
2. Analisa vegetasi (Metode Transek line, Garis Berpetak dan Kuadran)
3. Analisa Burung (Metode Transek line dan Point Count)
4. Analisa Air
5. Identifikasi tanaman Obat
6. Memahami metode dan pengolahan data pada point 2-4.
7. Dilakukan diluar wilayah Malang
Meninjau dari standarisasi yang ada maka kegiatan ini dilaksanakan di pegunungan wilis (Kediri), selain lokasinya yang dekat dengan wilayah malang disana juga masih banyak yang belum mengetahui komponen ekosistem yang ada di wilayah tersebut. Maka pada pertengahan bulan oktober divisi LH merencanakan untuk berangkat melakukan ini. Serta sudah menjadi suatu keharusan bahwasannya setelah selesai melakukan suatu kegiatan harus adanya suatu pelaporan tertulis.
1.2. TUJUAN
a. Persyaratan menuju anggota biasa
b. Menambah ilmu tentang konservasi
c. Mengetahui tentang komponen vegetasi hutan yang berada di luar wilayah malang.
1.3. BENTUK KEGIATAN
Adapun bentuk kegiatan ini diberi nama “Spesialisasi Divisi Lingkungan Hidup”. Sedangkan untuk macam bentuk kegiatannya sesuai dengan standarisasi yang diberlakukan.
BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN
2.1. Waktu dan Tempat
Waktu : Kamis – Minggu / 15 – 18 Oktober 2009
Tempat : Hutan Slurup (G. Wilis – Kediri)
2.2 Pelaksana dan Peserta
Kegiatan spesialisasi ini dilaksanakan oleh angota muda mapala tursina, dengan perincian sebagai berikut :
*Pelaksana : Isnan Pupito Huntoro / TALKEH
*Team Pembantu : Uum Evia / Peot
Ahmad Riza Fauzi / Soax (Pendamping) Peserta
Sengkuni /anggota MAHASPALA (Pengantar)
Kakus /anggota MAHASPALA (Pengantar).
2.3 Narasumber dan Pemateri
Sistem pembelajaran aku hanya berasal dari buku-buku yang berkaitan dengan konservasi dan sharing dengan orang yang bisa dikatakan membidangi dalam hal tersebut. Jadi, kalau bisa dikatakan narasumber hanya berasal dari buku sedangkan pemateri tidak ada.
2.4. Kronologis
# Pra Kegiatan
Pada awalnya kegiatan ini sudah terjadwal akan dilaksanakan pada pertengahan tahun, tapi karena ada beberapa kendala akhirnya pelaksanaannya menjadi molor di akhir tahun. Bahkan untuk penentuan lokasi pun berubah, ini karena menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Dengan penundaan waktu yang lumayan cukup lama ini saya manfaatkan untuk mencari berbagai literature yang ada, untuk masalah penguasaan materi saya hanya mengandalkan buku panduan yang ada serta saling sharing ke anggota-anggota sesama satu organisasi juga organisasi pecinta alam yang lain.
Kegiatan yang pada mulanya direncanakan bertempat di alas purwo banyuwangi dan berangkat 2 orang menjadi berubah target tujuan, ini dikarenakan keterbatasan waktu yang dimilki oleh team sangat minim sehingga menutut saya untuk mengubah target tujuan tempat yang akan dituju. Setelah dengan berbagai pertimbangan saya menentukan tempatnya dekat dengan wilayah malang tepatnya di Kediri. Ini juga masih di terjang masalah lagi, satu orang dari team yang sudah aku rencanakan berhalangan untuk bisa melaksanakan kegiatan ini, akhirnya mau tidak mau saya harus berangkat sendiri pada tanggal 15 oktober 2009.
Sebelum dari tangal itu saya juga mencari berbagai informasi di MAPALA yang dekat dari lokasi tersebut tentang lokasi yang akan saya tuju. Setelah dirasa cukup informasi yang didapat maka dengan keputusan sepihak saya nyatakan untuk berangkat pada hari tersebut.
Kamis, 15 Oktober 2009
Sehari sebelumnya saya mulai menceklist semua kebutuhan dan mencari berbagai sokongan dana yang ada untuk memenuhi segala keperluan yang saya butuhkan dalam kegiatan ini. Setelah cukup dengan segala kebutuhan yang ada, saya mulai mengkoordinasikan lagi dengan pengurus kapan dan bagaimana kita berangkat kelokasi yang kita tuju. Akhirnya dapat satu keputusan bahwasanya kita berangkat kamis siang dengan transportasi sepeda motor dan yang berangkat hanya 2 orang saja yaitu aku dan soax.
Waktu yang di nanti akhirnya tiba juga, kamis sekitar pukul 13.08 WIB persiapan sudah clear, maka saya langsung aja meluncur dari kontra’an menuju kampus untuk menjemput keperluan yang dianggap perlu. E.. sebelum meluncur kesana aku mendapat call dari om soax bahwasannya dia mengalami kendala teknis (macine error). Yups dengan perbekalan yang ada aku segera meluncur ke negeri orang gila ilmu, setelah sampai di negeri tersebut aku lansung menemui om soax dan mengkoordinasikan lagi tentang pemberangkatan kita ini. Ya.. tidak membutuhkan lama untuk mengobrolkan masalah ini dan juga kita langsung mendapatkan solusinya bahwasannya untuk berangkat hari ini om soax tidak bisa karena dia memutuskan untuk naik kendaraan pribadi yang lain yang lebih banyak muat orang dan lebih panjang dari kendaraan yang aku miliki, itu juga harus menunggu besok pagi untuk menaiki kendaraan yang paling istimewa baginya. So.. dengan berbagai pertimbangan yang lain juga aku dengan rela hati harus berangkat menerjang hembusan angin sendirian tanpa ada yang menemani “nasib”.
Denting waktu selalu berjalan seiring dengan detupan nafas, matahari semakin redup di pandangan mata. Sekitar pukul 16.30 WIB persiapan sudah siep akhirnya kupacu sepeda motorku menuju ke kota Kediri tanpa adanya upacara dan ritual yang lain kutinggalkan kota malang untuk sementara waktu.
Cahaya matahari telah berganti dengan sinarnya sang ratu malam bahakan lika-likunya jalan raya aku lewati begitu saja. Dengan dibimbing oleh sang mata angin dan keyakinan mental akhirnya sampai juga dikota Kediri tepat pukul 20.34 WIB dengan titik trianggulasi kampus STAIN Kediri di base camp MAHASPALA. Disana aku langsung disambut oleh mas nyambek dan sedulur-seduluri yang lain. Bahkan yang lebih asiknya lagi aku lansung disuguhi oleh alunan music reggae live. Setelah dihajar oleh gelapnya malam dan lika-likunya jalan raya semakin tak terasa lagi ketika badan ini mulai digoyangkan dengan music dan jamuan senyum dari saudara/I seperguruan. Kekuatan seorang manusia memang terbatas, beranjak malam akhirnya naluri seorang manusia keluar juga. Makan dan tidur adalah suatu kebutuhan utama yang sangat dibutuhkan oleh seorang mahluk. Bergeraklah kita menuju kesana hingga suasana malam terlewati begitu indah, ehm… beginilah siklus hidup manusia normal.
Jum’at, 16 Oktober 2009
Tut…tut.. bunyi dering ponsel membangunkan diriku dari mimpi pendekku, e.. ada sms dari om soax yang mengabarkan akan berangkat dari malang sekitar jam 06.00 WIB, bersegeralah aku mengambil air to cuci muka sekaligus air wudhu seperti biasa ritual dulu. Sehabis ritual rohani aku keluar dari kampus hirup udara pagi kota Kediri.
Ditemani oleh beberapa orang aku berkeliling sekitar wilayah perkampungan STAIN Kediri ya itung-itung sambil menunggu waktu. Sekali lagi ponsel yang aku bawa berbunyi, kali ini om soax nelp. Mengabarkan bahwa dia sudah dalam perjalanan ditemani oleh jeng peot. Setelah menjelang siang sekitar pukul 11.24 WIB om soax mengabari bahwa ia sudah sampai di stasiun kota Kediri. Kemudian saya meminta tolong kepada sengkuni untuk menjemput om soax dan ia pun menyanggupinya, tidak lama berselang kemudian om soax telah sampai di base camp MAHASPALA tapi ia sendirian, ternyata jeng peot tidak ikut ke Kediri melainkan dia pulang kampung. Istirahat sebentar, sholat jumat setelah itu aku berbenah lagi dan menceklist mulai dari logistic yang aku bawa dan yang dibawa sedulur om soax, setelah berfikir sejenak dan menimbang dari team pengantar sedangkan aku masih membutuhkan team pembantu yang lain akhirnya aku menghubungi jeng peot yang kebetulan posisinya ada dirumah dan rumahnya juga dekat dengan kota Kediri, aku meminta bantuannya untuk menjadi bagian dari team dalam kegiatanku, ternyata dia menyanggupinya. Sambil menunggu kedatangan peot ke Kediri kita menyempatkan waktu untuk sekedar mengisi perut yang kosong dan mengepack kembali peralatan serta menambah logistic yang masih dirasa kurang. Sekitar pukul 14.03 WIB jeng peot akhirnya datang juga, kutanya dia apa sudah siep untuk menjalankan misi, dia menjawab siap bozz!
Pukul 14.52 WIB kita sudah siap berangkat menuju lokasi konservasi yang diinginkan, dengan dipandu 2 orang dari MAHASPALA dan team dari kita sendiri 3 orang jadi jumlah orang dalam team kali ini adalah 5 orang siap untuk diberangkatkan. Adzan sholat ashar telah berkumandang, suara ini mengundang kita untuk beritual lagi jadi dengan terpaksa kita menunda pemberangkatan terlebih dahulu. Selesai ritual kita segera memanggul kembali carier yang di siapkan sejak tadi. Motor yang sejak tadi menunggu sudah siap untuk dipacu, 15.53 WIB motor telah berputar rodanya meninggalkan kampus IAIN Kediri jalan liku-liku dan berputar-putar bagai rute awal aku menuju kota Kediri.
Kini vegetasi,suhu, struktur tanah bahkan tatanan perumahan sudah berubah karena kita sudah berada di ketinggian 540 mDpl ini aku rasakan ternyata jam di kantongku juga sudah berubah kini telah menunjukkan pukul 16. 56 WIB kita istirahat sebentar si selter yang ada di tepi jalan. Setelah dirasa cukup waktu untuk berkontemplasi kita melanjutkan perjalanan lagi menuju pos pendakian. Pukul 17.10 WIB kita nyampai di perkampungan terakhir “bisa dibilang seperti itu”, setelah mengurus perizinan pendakian kita langsung menitipkan motor kita disana dan team berjalan kaki menuju lokasi pegunungan wilis. Lokasi yang pertama yang kita tuju adalah area wana wisata air terjun reggulo. Tepat dilokasi jam sudah menunjukkan pukul 17. 35WIB jarak lokasi dengan perkampungan masih dekat ± 400 m jadi jarak tempuh tidah memerlukan banyak waktu. Sebenarnya untuk pertama kali kita tidak ada inisiatif untuk mendirikan camp disana. Tapi, karena targetan awal kegiatan ini adalah 1 minggu jadi aku improve untuk ngecamp dulu dilokasi ini karena aku juga ada keinginan untuk explore di area wisata ini. Semua team tetep sepakat aja dengan keputusan aku yang serasa sepihak, ya… karena yang punya tujuan disini adalah aku jadi untuk semua orang tetepnurut aja apa yang aku kehendaki. Siep dengan keputusan aku kita langsung bagi tugas ada yang mengambil air untuk masak, mendirikan tenda dan yang paling berjasa adalah sie. Dapur. Mungkin karena lelah jadi perut ini sudah merasa keroncongan. Job sudah terkondisikan masing-masing langsung kita bergerak sesuai dengan naluri job kita, tenda sudah berdiri masakan sudah tanak langsung aja kita menyerbunya bersamaan. Selesai makan kita berkordinasi sebentar dengan team yang ada kita membahas kegiatan yang besok yang aku lakukan dan membagi job untuk pekerjaan besok. Kordinasi tersebut dilakukan sekitar jam 19.08 WIB dan menghasilkan :
1. Materi yang aku laksanakan besok adalah :
- Analisa burung (Metode Poin Count) pukul 05.00 WIB
- Analisa Vegetasi (Metode Transek Line) Pukul 08.00 WIB
2. Pembagian Job :
- Aku isnan “Talkeh” menjalankan materi dan om Riza Fauzi “Soax” crew pembantu
- Juru masak jeng Uum evia “peot”
- 2 orang dari MAHASPALA membantu team masak atau team centre.
Selesai tercapai hasil, langsung koordinasi ini saya akhiri tepat pada jam 19.18 WIB, kita menlanjutkanya dengan berbincang-bincang santai diselingi dengan cerita kondisi wilayah pegunungan wilis dan di hidangi dengan kacang goring serta segelas kopi hangat. Disela-sela perbincangan team mengajak untuk bermain kartu, tapi kali ini aku tidak bisa meraskan permainan ini. Ya maklum disini yang punya kegiatan adalah aku, jadi saya ditindas dan di tuntut oleh para team untuk belajar dan menjadwal ulang apa saja yang akan dilakukan besok. Walaupun begitu aku juga punya kebebasan untuk berbuat sesuai keinginanku. Alhasil karena aku bosan sendiri menulis dan membaca dengan hanya diterangi sebatang cahaya lilin mata jadi terasa ngantuk dan serasa minta dikatupkan, walaupun ini baru jam 20.04 WIB dengan segera aku meringkasi buku-buku yang sejak tadi menemaniku dan mencari posisi untuk segera membaringkan tubuhku dan otak yang siap dituntut untuk berfikir dihari esok.
Sabtu, 17 Oktober 2009
Ayam telah berkokok dan burung-burung sudah mulai berkicau ini berarti sudah manandkan bahwa pagi telah tiba. Selain suara binatang pagi ternyata ada suara panggilan manusia, inilah yang membuat aku segera beranjak dari kehangatan dome dan menikmati udara pagi. Setelah aku tengok jam saku ternyata jam sudah menunjukkan pukul 05.10 WIB, berarti ini aku sudah terlambat 10 menit dari jadwal yang sudah kita tentukan tadi malam. Dengan segera aku membasuh muka dan memulai materi awal yang akan dilakukan, aku mulai mencari sebuah tempat untuk dijadikan sebuah titik plot dalam pengaplikasian teori.
Satu misi siap aku jalankan, terhitung mulai jam 05.35 WIB aku mulai menjalani misi dengan berbekal 1 binokuler, Alti, Kompas dan 1 Matras semuanya ku tenteng dengan sendirinya. Aku mulai mengamati dan mencatat semua yang diperlukan dalam misi ini, walaupun kalau dirasa mata ini masih terasa kurang untuk diistirahatkan tapi aku selalu semangat karena ini adalah tuntutan dari sebuah keinginan. Lama kelamaan yang sejak dari tadi aku incar tak kunjung muncul lagi, entah mengapa? Mungkin saja sudah mulai terasa akan terpaan sinar matahari yang semakin terang. Ini menimbulkan inisiatif aku untuk mengubah titik plot aku, tepat pukul 06.03 WIB aku bergeres menuju titik plot yang lain.
Bergeser beberapa kordinat saja dari titik semula kini aku sudah berada pada posisi titik plot yang berbeda dan ini dirasakan baru sekitar pukul 06.10 WIB aku mulai melakukan analisa kembali dengan metode yang sama pula, tapi kali ini aku kedatangan satu personil lagi dari team ”sengkuni” maka dia langsung aja aku fungsikan sebagai team cleaning alat. Karena data yang diambil cukup memenuhi tujuan maka aku akhiri analisa ini tepat pada pukul 07.00 WIB.
Kembalilah aku ke camp, ternyata disana sudah siap saji semua kebutuhan makan. Jadi aku datang langsung tinggal ambil posisi yang strategis dan serbu....
Sehabis dari makan kita bercengkrama sebentar dan membahas tentang hasil yang saya peroleh tadi. Munking lagi-lagi karena kenyang sehingga mengakibatkan dirikoe malas untuk bergerak ke materi yang selanjutnya. Tapi karena kegiatan yang selanjutnya sudah ada dalam scedule dan wajib untuk dilakukan maka aku tetep maju terus melanjutkan kegiatan yang sudah seharusnya di lanjutkan.
Kuambilah semua peralatan yang sekiranya dibutuhkan untuk melaksanakan materi selanjutnya, sesuai dengan rencana awal bahwasannya untuk kali ini aku harus melaksanakan analisa vegetasi dengan menggunakan metode transek line. Menunjukkan jam 09.01 WIB aku telah menemukan tempat untuk mengaplikasikan metode tersebut. Maka langsung saja menngeplot lokasi tersebut dan menganalisanya. Untuk kali ini aku tidak bekerja sendirian mulai dari om soax dan jeng peot ikut serta dalam materi kali ini. Om soax selalu bertindak sebagai pengawas, tapi karena dia ikut nimbrung disitu maka aku mintai bantuan untuk ikut mengeplot lokasi tersebut. Setelah lokasi sudah diplot sesuai dengan keinginan aku mulai mencatat beberapa data yang sekiranya diperlukan.
Melihat waktu dan kondisi yang kelihatan serba ribet om soax akhirnya menawarkan diri untuk membantu aku dalam mengaplikasikan metode ini, emang karena sejak tadi tadi aku selalu bergerak sendiri terus dan kalau diperhatikan emang memerlukan waktu yang sangat banyak sekali. Aku terima tawaran om soax dan kujadikan dia sebagai notulen, dan satu orang lagi aku tarik untuk jadi team yang bekerja dalam metode ini, jeng peot aku tunjuk sebagai team pengolah sample. Ini juga setelah aku kasih tahu petunjuk pengolahannya.
Hampir 1 jam lebih aku mengolah hasil, tapi plot yang diambil baru lintas beberapa meter dari 20 m. Karena kelemahan kondisi dari team maka aku putuskan untuk mengambil sample area terkecil yakni 5 m. Ini pula dalam pengolahannya berakhir di jam 11.00 WIB, disamping cuaca yang cukup lumayan panas juga kondisi fisik yang mulai melemah. Setelah saya akhiri di jam tersebut maka dari team sendiri aku instruksikan untuk menceklist kembali peralatan yang ada serta mempacking kembali di tempat yang telah tersedia dan aku istirahatkan team aku yang sudah melemah kondisi fisiknya.
Semua team kembali ke camp centre meletakkan semua peralatan kemudian berpindah lagi mengkondisikan peralatan dapur, karena kita akan melaksanakan sebuah misi yang bertujuan untuk menghancurkan rasa lapar yang sudah menjangkit di setiap tubuh team. Tanpa dikomando sang team langsung bergerak menyesuaikan job yang ada walaupun tanpa ada pembagian job ulang karena atas dasar kesadaran terjangkitnya virus al juu’.
Habis menjalankan misi penting membasmi virus Al juu’. Team langsung koordinasi dengan sistem obrolan santai membahas misi yang lain yang juga tak kala pentingnya dari misi yang barusan kita laksanakan. Wacana yang dibicarakan adalah :
1. Apa kita tetep sesuai dengan targetan awal, explorasi lingkungan dalam jangka hari 1 minggu ?
2. Materi apa saja yang akan di laksanakan?
3. Kondisi medan yang ada ?
4. kondisi vegeteasi yang ada ?
5. kondisi air di ketinggian tersebut ?
Hasil yang diperoleh adalah :
1. Setelah aku tanyai tentang kondisi dari team tentang jangka waktu hari yang ada, mereka mempertanyakan kembali apa gak bisa lebih dipercepat lagi? Aku pun menjawabnya bisa. Maka aku putuskan untuk kesemuanya materi analisa vegetasi kita selesaikan disini sekarang juga.
2. Materi yang belum diaplikasikan adalah analisa vegetasi metode kuadran & metede garis berpetak, analisa burung metode transek line, dan analisa air.
3. kondisi medan di atas kebanyakan adalah kondisinya curam dan kelerengan yang ada sangat rawan jika mengaplikasikan dari metode yang belum terlaksana.
4. Untuk kondisi vegetasi yang ada memang sangat heterogen dan lebih kerapatan vegetasinya lebiih padat daripada vegetasi yang ada dilokasi ini.
5. Sumber air ditengah perjalanan memang ada, tapi hanya sekedar aliran mirip pet. Ada sungai tapi berada di lokasi pos II (pos terakhir). Tapi untuk untuk kondisi sungai tersebut dalam musim kemarau kadang saja mengalami kekeringan. Jadi, untuk air tidak bisa di jadikan sebuah patokan jika mau mengaplikasikan analisa air.
Menimbang dari hasil koordinasi tadi diatas maka aku putuskan untuk analisa vegetasi kita lakukan sekarang juga sedangkan analisa air & analisa burung dilanjutkan dilokasi yang lain.
Menanggapi sebuah permintaan tentang waktu tempuh yang kita akan alami maka aku dengan segera mempersiapkan peralatan yang digunakan untuk aplikasi analisa vegetasi dengan metode kuadran. Aku langsung mencari lokasi yang tepat untuk aplikasi metode ini dan aku menemukan lokasi ini tepat berada di dekat lokasi analisa burung dengan kemiringan yang cukup lumayan melelahkan tepat pada pukul 12.06 WIB. Dengan cepat aku kondisikan team yang mau membantu, untuk om soax aku kasih job sebagai notulen, sedang untuk jeng peot dan sengkuni aku kasih job membatu dalam pengukuran plot. Aku sebagai pengolah data dengan segera aku menginput data yang ada, dan berakhir sekitar jam 14.49 WIB. Sudah menjadi sebuah tradisi jika kita selesai menggunakan sesuatu maka wajib untuk membersihkanya kembali dan mengembalikan seperti semula.
Lagi-lagi kita kembali ke camp centre beristirahat sejenak mempersiapkan materi selanjutnya, yakni pengaplikasian metode garis berpetak. Alat sudah di siapkan tinggal menjalankan metodenya. Dengan segera aku mengajak kembali team yang ada untuk mensurvei lokasi yang tepat untuk mengaplikasikan metode ini, aku berinisiatif pingin mengekplor vegetasi yang berada didekat air terjun. Maka team langsung aku gerakkan menuju kesana, tepat pada lokasi yang kuanggap bisa untuk mengaplikasikan metode ini tapi hanya yang sebagai kendalanya adalah kemiringan dari tempat ini dan kerapatan vegetasi yang masih menjadi bahan pikiran bisa gak aku melakkukan metode ini disini. Tepat seperti tebakan yang awal ternyata baru saja aku membuat garis ukur plot dengan ukuran 20 m² tenaga sudah tak kuasa untuk menuntaskan pengeplotan. Akhirnya aku putuskan untuk mencari lokasi yang lain untuk mengaplikasikan metode ini, langsung aku membenahinya kembali tali rafia yang sudah terpasang tadi untuk berpindah kelokasi yang mudah untuk aplikasi metode ini.
pukul 16.04 WIB aku beserta team sudah menemukan tempat yang baru untuk mengaplikasikan metode garis berpetak. Lokasi yang aku ambil kali ini terlihat habis dipakai lahan dari dinas perhutani, ini dilihat dari struktur tanah yang ada. Setelah aku menentukan titik plot dengan segera aku mebuat petakan-petakan sesuai dengan ukuran yang ada. Pembagian job tetep seperti semula, dalam aplikasi metode ini meamakan waktu sampai 17.25 WIB. Dengan berakhirnya aplikasi metode ini maka secara tidak langsung dari materi analisa vegetasi sudah saya aplikasikan kesemuanya metode yang diinginkan dalam 1 hari full.
Selesai aplikasi metode ini kita langsung kembali ke camp. Untuk segera mempacking semua perlengkapan untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung wilis. Perjalanan menuju puncak kita mulai di jam 18.25 WIB, medan kita tempuh dengan berjalan kaki walaupun medan yang ada adalah jalan setapak yang sudah beraspal dalam kata lain andai saj kita menggunakan kendaraan bermotor masih bisa kita tempuh. Sebagai tantangan pertama menghadapi medan ini adalah dengan adanya tanjakan gigi 1, selain jalanya yang sangat miring dengan kemiringan yang kurang lebih 45ᵒ jalan ini juga sangat panjang kira-kira ada 200 m. Ini baru rute awal, e... itung-itung pemanasan kali. Rute yang kita lewati sampai camp. Peristirahatan adalah rute perpanjangan aspal, andai saja kita tadi berjalan pada siang hari, uuih... betapa panasnya berjalan diatas aspal yang tak berujung ini. Tepat di jam 20.24 WIB kita sudah di tempat tujuan, tempatnya ini memang bukan tempat peristirahatan yang sebenarnya karena tempat yang kita singgahi kali ini adalah sebuah warung makan yang hanya buka pada siang hari, disepakati untuk ngecamp disini karena untuk medan selanjutnya kita sudah memasuki kondisi medan yang sesungguhnya yakni kondisi perhutanan dengan kerapatan vegetasi yang lumayan rimbun. Tapi, untuk kondisi medan yang sedemikian tersebut kita sepakat untuk dilalui besok paginya saja.
Dome kita dirikan, peralatan masak kita keluarkan dan dengan segera kita kelola logistik yang ada. Selesai masak kita seperti biasa kita langsung menyantapnya secara bersamaan, habis makan kita kondisikan semua peralatan masak.lagi-lagi kita lansung koordinasi dengan sistem ngobrol santai seperti biasa. Dengan pembahasan antara lain :
1. Tentang materi yang tadi dan besok yang aku lakukan!
2. Mulai jam berapa kita bangun dan melanjutkan perjalanan!
Hasil yang kita peroleh dari koordinasi :
- Ok untuk materi yang sudah di aplikasikan tadi sudah memenuhi tentang standarisasi yang ada, dan mulai besok saya harus menuntaskan materi yang belum terlaksana. Antara lain tentang materi analisa burung dengan metode transek line dan analisa air.
- Kita besok berangkat paling lambatnya sekitar jam 05.30 WIB karena besok pagi tempat camp ini akan dipakai untuk berjualan dan medan yang kita tempuh sudah tidak jalan aspal lagi, melainkan sudah hutan belantara.
Koordinasi berlangsung cukup singkat, lalu kita ngobrol-ngobrol sebentar sambil menikmati sedapnya segelas kopi dan nikmatnya satu batang rokok sebagai one inspiration to explorasi vegetasi. Malam semakin larut, angin berhembus semakin kencang mengantarkan kita tentang indahnya alam mimpi.
Minggu, 18 Oktober 2009
Grubyuk-brubuk...... sang angin malam sempat mengetarkan tenda dome tempat kita tidur sehingga sempat terselip sebuah halusinasi tentang berbagai mitos yang ada tentang keangkeran gunung wilis, sehingga ini menggugah dirikoe untuk segera bangun dari mimpi malamku. Untuk kesekian menit aku merasakan dinginnya hawa malam dan menjadikan mataku untuk segera mengkatupkan lagi dan melanjutkan mimpi malam yang indah, lagian para tea juga masih terlelap dengan nyamannya kebersamaan dalam satu tenda dome. Jam juga masih menunjukkan jam 04.00 WIB. Maka aku tak menyia-nyiakan waktu untuk segera melanjutkan tidurku, karena aku juga tak mau ketinggalan dengan alur cerita mimpi malamku.
Tidak berselang lama kemudian terdengar suara yang membangunkan kembali dirikoe yang sudah terlanjur dengan nikmatnya mimpi malam ini, tapi kali ini yang membangunkan bukanlah angin atau sang penghuni gunung wilis melainkan salah satu orang dari team aku sendiri. mau tidak mau kita juga harus bangun dan dengan segera kita harus mempacking peralatan kembali daripada kalau kita lama-lama disini pasti kena angkara murka dari sang pemilik warung tersebut.
Diawali dengan minum seteguk air putih dijam yang sama kita mulai perjalan ini pukul 05.39 WIB, pengambilan dokumentasi sudah dianggap puas, kita mulai perjalanan dengan memotong jalan raya menuju hutan slurup. Awal tracking sudah terlewati, dengan tas carier dibelakang dan day bag di depan aku mulai menyusuri bentangan vegetasi hutan, disini aku bukan sekedar berjalan tapi aku juga sambil mengaplikasikan metode analisa burung dengan metode transek line. Untungya medan kali ini tidak terlalu nanjak, jadi kondisi tubuh walaupun tidak diisi dengan sarapan pagi tidak membuat kita lemas dalam melanjutkan perjalanan. Suara burung yang banyak berkicauan membuat mataku bergerak kesana kemari mencari sumber yang tepat darimana asal suara tersebut. Sambil terus mengamati dan mengawasi beraneka macam suara burung kita terus melanjutkan perjalanan dengan kondisi medan disebelah kanan kita yang lumayan curam, kita menyisiri putaran demi putaran punggungan dengan kemiringan yang lumayan terjal sampailah kita pada pos I pemberhentian tepat pada pukul 06.13 WIB yang mana kondisi tanahnya ada sedikit pelataran datar yang lumayan cukup nyaman dibuat untuk beristirahat sejenak menghilangkan rasa lelah.
Sebungkus permen kita keluarkan dan dibagikan kesemua team itung-itung sebagai tambahan energi, tak lupa pula kita ambil posisi untu action di depan kamera sebagi dokumentasi. Matahari memang menyinari seluruh isi bumi tapi ditempat ini matahari masih belum bisa menyusup dengan sempurna menembus rapatnya vegetasi yang ada. 15 menit kita beristirahat dan kita melanjutkan kembali perjalanan kita menuju pos terakhir pendakian. Sampai di pos II pandakian sekitar jam 08. 19 WIB, sekali lagi kita harus mengeluarkan peralatan masak biasa untuk membuat sarapan pagi. Tapi kali ini aku tidak membantu team untuk memasak nasi, karena aku harus melaksanakan aplikasi yang terakhir yakni aplikasi materi analisa air.
Untuk aplikasi analisa air aku di pandu oleh sengkuni tentang lokasi air yang ada, setelah mengetahui kondisi sungai yang ada aku segera melaksanakan penganalisaan mulai dari suhu, struktur tanah dan mulai menggambarkan tentang pemetaan sungai. Pada awalnya aku ingin mengeplot sungai ini dalam ukuran 10 m tapi karena relief sungai yang terjal dan rawan maka aku putuskan untuk pengambilan sample terkecil atau plant area, yakni pemetaan dasar kolam sungai. Analisa air saya mulai pada jam 08.45 WIB dan diakhiri pada jam 09.15 WIB. Setelah selesai aplikasi analis air kita kembali ke camp untuk membantu masak. Sesampai di camp kita langsung ambil posisi untuk membantu membuat sarapan. Setelah makanan sudah siap saji kita langsung menyantapnya dan menikmati aroma pengunungan yang khas. Karena tadi adalah aplikasi yang terakhir maka kita satu team berkoordinasi lagi apakah kita akhiri sampai disini atau kita lanjutkan lagi perjalanannya. Lalu aku menjawab “untuk materi tuntas sampai disini, tapi untuk perjalanan tanggung. Saya harus sampai pada puncak, kapan lagi kita bisa kesini kalau tidak menyempatkan waktu sekarang juga”. Terus team pengantar menanggapi pernyataanku tadi “ok, saya setuju aja kalau materi sudah berakhir sampai disini karena itu juga terserah dirimoe yang punya gawe. Tapi untuk sampai pada puncak aku tidak bisa menyanggupinya. Karena selain kondisi angin yang begitu kencang, aku juga belum pernah naik sampai puncak” jadi kalau ini kita jadi kepuncak berarti ini yang pertama bagi kalian dan aku dong “aku menyahuti tanggapannya.
Pada akhirnya setelah satu team mengutarakan pendapatnya masing-masing kita tetep sepakat untuk menuju kepuncak. Perjalananpun kita mulai dijam 10.05 WIB, memang untuk perjalanan kepuncak selain kondisi medan yang Cuma ada jalan setapak track juga sangat curam dan terjal, angin yang berhembus juga sangat kencang sekali. Sehingga dalam tiap ada hembusan angin yang lewat kita selalu berhenti dah mencari pegangan di kanan kiri kita, takut terbawa angin dan terbang kali... maklum selain lokasinya adalah pertemuan angin lembah vegetasi yang ada Cuma sekedar alang-alang dan tubuh dari team sendiri juga teramat imuet-imuet. Jadi maklum kalau kita takut dengan hembusan angin yang lewat menerjang kita dalam perjalanan. Ditengah perjalanan team berhenti sejenak menghilangkan rasa lelah melewati tanjakan badai. Ditempat inilah team mulai semakin takut melanjutkan perjalanan, karena menatap medan yang ada didepan ternyata lebih terjal dan curam. Maka aku semakin berfikir ulang masak Cuma sampai sini?? Sangat tanggung lah kan tinggal beberapa ratus meter lagi. Setelah aku mengamati cuaca yang ada maka aku mempunyai keputusan tetep melanjutkan perjalanan ini, ikut tidaknya team aku akan tetep melanjutkan perjalanan ini. Karena aku berkeyakinan dalam cuaca yang secerah ini kemungkinan sangat kecil sekali terjadi adanya badai. Untuk angin yang sangat kencang aku bisa menyiasatinya begaimana cara memposisikan tubuhku agar tidak terbawa oleh angin yang sangat kencang ini.
Keputusan aku iini hanya diikuti oleh satu orang saja yakni sengkuni, sedang yang lain akan tetep menunggu kita disini. Akhirnya aku berjalan lagi melanjutkan perjalanan dengan jumlah team yang berkurang menjadi 2 orang saja. Aku beranggapan bahwa mungkon angin kencang ini hanya sekitar medan ini, karena aku melihat kondisi vegetasi di puncak terdapat banyak pohon besar yang tumbuh disana. Memang untuk medan yang aku lewati kali ini lebih sulit dibandingkan dengan medan yang awal tadi, sampai-sampai teknik panjatpun harus keluar disini. Setelah melewati berbagai tanjakan ada sedikit lahan datar dan disana aku mengamati struktuk batuan yang ada itu seperti habis ada sebuah candi disana, karena dari batuan yang ada itu seperti ada yang menatanya seperti sebuah tangga untuk menaiki medan yang ada dan ada pula yang membentuk sebuah kotakan seperti ada sebuah bangunan yang habis dibongkar mirip seperti yang ada dilokasi pegunungan arjuno malang. Sekitar pukul 11.56 WIB kita sudah berada dipuncak. Aku segera mencari titik trianggulasinya seperti yang dikatakan banyak orang dan seperti halnya biasa bahwasanya kalau kita sudah ada berada dipuncak gunung itu jelas ada satu titik trianggulasi, tapi setelah aku menyusurinya aku tidak mendapatkannya. Ternyata perkiraanku awal tadi kurang tepat bahwasannya di puncak anginya tidak akan sekencang seperti yang aku rasakan tadi. Kebenarannya ternyata dipuncak angin juga sama kencangnya seperti tadi dan kondisi vegetasi yang dominan juga sejening ilalang dan perdu-perduan.
Kukibarkanlah bendera organisasiku disana menantang kecangnya angin yang sedang berhembus, click.... click.. aku berhasil mendokumentasikan berkibarnya benderaku dipuncak gunung wilis. Arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.07 WIB maka kita sudahi saja foto-fotonya dipuncak, kembalilah kita ke camp,karena disana team yang lain sudah menunggu kita dibawah. Perjalan dari puncak ke camp ternyata lebih cepat dari waktu kita menuju ke puncak.
Perjalanan kembali ke perkampungan diawali mulai jam 13.09 WIB, singkat waktu kita sudah sampai pada lokasi jalan aspal kembali, karena lelah kita menyempatkan waktu untuk beristirahat sejenak di lokasi sumber pancuran air yang diberi nama oleh anak-anak sana dengan sebutan yang sangat aneh dan lucu “sumber bawok” namanya. Kita lepaskan penat dan lelah disana sekaligus mengisi tenaga yang lumayan terkuras dengan kondisi medan yang ada. Tenaga sudah terisi, kita melanjutkan perjalanan kembali. Dengan ucapan syukur dan lega akhirnya kita sudah sampai pada lokasi perkampungan yang terakhir tempat kita menitipkan motor kita disana.
Kangen juga dengan motorku yang sudah tiga hari ini tidak bersanding disampingku, udara perkampungan kini mulai terhirup lagi. Singkat waktu lagi Dipaculah motorku ke perkampungan yang lebih modern dari perkampungan yang aku singgahi kali ini. 1 ½ jam lamanya perjalanan kita hingga sampai pada kota kediri tepatnya di kampus STAIN kediri. Sekitar jam 19.00 WIB kita sudah duduk santai di sekretariat MAHASPALA. Diletakkanlah peralatan camp kita disana karena kita tidak mau berlama-lama lagi untuk memanggulnya. Sisa logistik juga kita langsung keluarkan untuk segera di olah pegununglagi, sedangkan team langsung membersihkan diri dari penatnya debu pegunungan wilis. Selesai bersih-bersih diri ternyata logistik sisanya tadi juga telah rampung dari pengoalahan menjadikan diri kita tinggal menyantapnya. Lelah juga mengarungi berbagai pengalaman baru serta lingkungan baru ini menjadikan badan ingin diistirahatkan kembali. Tidurlah aku dengan kondisi yang sangat nyaman dan enjoy. Terimakasih alamku engkau tealh meberi banyak ilmu kepadaku...!
# PASKA KEGIATAN
Senin, 19 Oktober 2009
06.00 WIB aku terbangun dari tidurku, team sekarang ditiadakan mereka kini bekerja sesuai dengan naluri mereka masing-masing. Karena kegiatan sudah selesai maka kami berniat untuk undur diri kembali ke kota masing-masing. Om soax berkeinginan kembali lagi ke kota malang sedang jeng peot ingin kembali ke rumahnya di tulungagung. Sebelum semuanya pulang kenegaranya masing-masing kita menyempatkan diri untuk sarapan pagi bersama-sama saudara yang lain dari Mahaspala. Sehabis sarapan pagi semuanya berpamitan untuk pulang terkecuali aku yang masih tertahan disana, maka aku sampaikan banyak terimakasih kepada saudaraku yang telah banyak membantu. Thanks wahai saudaraku, selamat jalan... hati-hati diperjalanan!
Setelah beberapa jam sempat bermain dan bercengkrama sebentar disana, pada sore hariny aku juga berpamitan untuk menyusul saudaraku yang sejak tadi pagi pulang. Tapi, untuk meminta izin pulang aku mengalami beberapa rintanngan terlebih dahulu dari saudara-saudara Mahaspala. Akhhirnya pada jam 17.45 WIB baru aku mendapatkan izinku untuk pulang kenegeriku sendiri. maka kupaculah motorku sekali lagi dengan rute kediri-malang. Kusampaikan salam pada semua saudara yang telah banyak membantuku dalam memahami alam disana. Terimakasih Wassalam....
Diperjalanan pulang aku sempat salah jalur karena ternyata jalur yang aku pilih bukanlah menuju malang melainkan menuju kota jombang. Maka dengan terpaksa aku melanjutkan motorku kearah kampung halamanku. Sekitar jam 21.56 WIB aku telah sampai di kotaku tepatnya dirumah tercinta. Maka tak banyak kata setelah mendapat sentuhan tangan dari ortuku, aku langsung mengambil posisi tidurku. Besok paginya aku segera mencuci peralatan perangku dari debu-debu yang aku bawa dari gunung wilis. Jadi aku besoknya lagi kalau sudah dimalng tinggal mengembalikan peralatanya dalam kondisi yang sama seperti waktu aku memi jamnya dari organasasiku.
KRONOLOGIS WAKTU
# Jum’at, 16 Oktober 2009
No Waktu Keterangan
1 16.52 – 17.10 WIB Perjalanan dari kampus STAIN kediri – lokasi
2 17.20 – 17.35 WIB Berjalan dari kampung terakhir – Camp I
3 18.10 – 19.00 WIB Masak + makan
4 19.09 – 19.18 WIB Koordinasi
5 19.18 – 20.04 WIB Belajar santai
6 20.04 – 05.10 WIB Istirahat tidur malam
# Sabtu, 17 Oktober 2009
No Waktu Keterangan
1 05.10 – 05.30 WIB Bangun pagi – persiapan materi
2 05.38 – 06.03 WIB Analisa burung metode Point Count(Plot I)
3 06.10 – 07.00 WIB Analisa burung metode point count (Plot II)
4 07.03 – 08.40 WIB Istirahat + makan
5 08.44 – 09.00 WIB Survey lokasi materi selanjutnya
6 09.01 – 11.00 WIB Analisa vegetasi (metode Transek Line)
7 11.05 – 11.54 WIB Istirahat + makan
8 11.54 – 12.00 WIB Koordinasi
9 12.06 – 14.49 WIB Analisa Vegetasi (Metode Kuadran)
10 15.03 – 15.45 WIB Analisa Vegetasi (Metode Garis Berpetak)
11 16.04 – 17.25 WIB Analisa vegetasi (Garis Berpetak)
12 17.30 – 18.20 WIB Packing Barang
13 18.28 – 20.24 WIB Perjalanan menuju camp II
14 20.24 – 20.34 WIB Mendirikan Camp (Dome)
15 20.38 – 21.56 WIB Masak + Makan
16 21.58 – 22.15 WIB Koordinasi
17 22.25 – 04.25 WIB Istirahat malam
#Minggu, 18 Oktober 2009
No Waktu Keterangan
1 05.53 – 06.13 WIB Perjalanan Ke Pos I
2 06.13 – 06.28 WIB Sampai di Pos I & istirahat
3 06.28 – 08.19 WIB Perjalanan sampai pada Pos II
4 08.45 – 09.15 WIB Materi analisa air
5 09.17 – 10.00 WIB Istirahat + Makan
6 10.05 – 11.56 WIB Perjalanan menuju puncak G. Wilis
7 11.56 – 12.07 WIB Berada di puncak G. Wilis
8 12.07 – 12.45 WIB Perjalanan turun dari puncak ke Camp.
9 12.45 – 13.00 WIB Packing Barang
10 13.09 – 15.45 WIB Perjalan Turun ke peradaban / perkampungan
11 15.45 – 16.30 WIB Berada di perkampungan Akhir
12 16.30 – 19.57 WIB Perjalanan menuju ke kota kediri
13 20.00 WIB Kegiatan resmi telah selesai
2.5 Laporan Keuangan
Kegiatan ini sumber dananya berasal dari sang pelaksana kegiatan, serta berdasar atas rasa persaudaraan dan kebersamaan maka untuk keuangan ini aku cari dari hasil swadaya saudara-saudarku dan ini menghasilkan dana ± Rp. 350.000. semuanya aku alokasikan untuk kebutuhan peralatan dan logistik selama kegiatan.
Daftar rincian keuangan :
No Hari/tgl Nama barang Banyanya Debit Kredit Jumlah Total
1 Selasa, 13 Okt 2009 Income Rp. 350.000 - Rp. 350.000
2 Selasa, 13 Okt 2009 Thermometer 1 Rp. 9.000
Alkohol 70% 2x @Rp.10.250 Rp. 20.500
Penggaris segitiga 1 Rp. 7.000
Kuas 1 Rp. 2.000
Kertas Karton 1 lmbr Rp. 6.000
Rokok Inter 1 Bks Rp. 7.700
Lilin 2 x @ Rp. 6.000 Rp. 12.000
Teh Sachet 2 x @ Rp. 1.000 Rp. 2.000
Energen 10 x @Rp. 1.100 Rp. 11.000
Telur ½ Kg Rp. 6.500
Rokok Sampoerna 2 Bks Rp. 12.600
Mie Instan 10 Bks Rp. 13.000
Batrai 2 Bj Rp. 6.600
Minyak Goreng ½ Kg Rp. 6.400
3 Rabu, 14 Okt 2009 Tali rafia 1 gulung besar - Rp. 5.000
Susu kaleng 1 Rp. 8.000
Tisu Gulung 4 x @Rp. 1.200 Rp. 4.800
Camilan Rp. 15.000
4 Kamis, 15 Okt 2009 Spirtus 4 x @Rp. 5.000 Rp. 20.000
Selotip 4 x @Rp. 1.000 Rp. 4.000
Roll film 2 x @Rp.14.000 Rp. 28.000
Roti Tawar 2 x @Rp.5.500 Rp. 11.000
Obat-obatan Rp. 5.400
5 Jum’at, 16 Okt 2009 Bensin Rp. 15.000
Bumbu Masak Rp. 6.500
Sayur-sayruran Rp. 7.300
Camilan Rp. 21.700
Rokok Inter 1 bks Rp. 8.000
Jumlah total Rp. 282.000 Rp. 6.800
BAB III
HASIL KEGIATAN
3.1 Metode Kegiatan
Karena kegiatan ini mengacu pada standarisasi yang ada maka metode yang di pakai dalam kegiatan ini adalah :
1. Analisa vegetasi : - Metode Garis Berpetak
- Metode Transek Line
- Metode Kuadran
2. Analisa Burung : - Metode Point Count
- Metode Transek Line
3. Analisa Air : Ploting Area
4. Pengamatan Kawasan metode yang digunakan secara Observasi
5. Identifikasi Tanaman
3.2 Kajian Pustaka
Sudah menjadi suatu kewajaran bahwasannya sebuah organisasi mempunyai sebuah acuan atau sebuah peraturan, seperti halnya organisasi MAPALA TURSINA. Organisasi ini sudah barang tentu memiliki sebuah acuan aturan yang disebut dengan AD/ART, GBPK dan PO. Bahkan keanggotaanpun aturannya juga di buat, seperti yang tertulis di ART bab IV keanggotaan pasal 6 “Anggota biasa : anggota muda yang telah memenuhi satuan kredit point pada tahap kedua dan telah spesialisasi”. (AD/ART MAPALA TURSINA; 2009-2010)
Seperti yang telah dijelaskan dalam ART MAPALA TURSINA bahwasannya untuk menuju jenjang dari AM (anggota muda) ke AB (Anggota biasa) harus menempuh sebuah jenjang kegiatan yang dinamakan spesialisasi (pemenuhan jenjang AM ke AB yang lebih spesifik pada skill divisi dengan ketentuan standarisasi yang telah ditetapkan); (PO MAPALA TURSINA; pasal 16, 2009 – 2010).
Memperhatikan hal tersebut maka sebagai anggota muda yang sudah memenuhi satuan kredit poin berkewajiban untu melakukan spesialisasi, diantara 5 divisi ada salah satu divisi yang lebih terfokus kepada konservasi (divisi lingkungan hidup). Divisi memiliki beberapa standarisasi dan sebagai garis besarnya standarisasi tersebut adalah tentang analisa vegetasi, analisa burung dan analisa air.
Sebelum melangkah ke analisa hal yang mesti dilakukan adalah pengamatan kawasan, Pengamatan kawasaan baik secara menyeluruh ataupun hanya sebagian dari komponen ataupun fungsi kawasan akan menjadi modal untuk melakukan pengelolaan (konservasi kawasan). Mengamati kawasan adalah : melihat kawasan dengan cermat, lebih sungguh-sungguh, lebih teliti untuk memperoleh data. Dengan demikian pengamatan kawasan atau kegiatan konservasi tidak berarti harus di dalam “kawasan” atau hutan akan tetapi dapat dilakukan di wilayah pedesaa, perkotaan, kampus, pemukiman dan lain-lainnya. (lap. LATGAB konservasi se-jatim; 2004. Hal : 53)
Hutan Slurup di gunung Wilis pada sisi Kabupaten Kediri, tepatnya di daerah Dolo kecamatan Mojo. Hutan dengan banyak aliran air, berhawa dingin dan tingkat kelembaban rendah
Bayangkan mengiris sebuah hutan secara melintang. Hutan seakan-akan terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian di atas tanah, bagian di permukaan tanah, dan bagian di bawah tanah. Jika kita menelusuri bagian di atas tanah hutan, maka akan terlihat tajuk (mahkota) pepohonan, batang kekayuan, dan tumbuhan bawah seperti perdu dan semak belukar. Di hutan alam, tajuk pepohonan biasanya tampak berlapis karena ada berbagai jenis pohon yang mulai tumbuh pada saat yang berlainan.
Di bagian permukaan tanah, tampaklah berbagai macam semak belukar, rerumputan, dan serasah. Serasah disebut pula 'lantai hutan', meskipun lebih mirip dengan permadani. Serasah adalah guguran segala batang, cabang, daun, ranting, bunga, dan buah. Serasah memiliki peran penting karena merupakan sumber humus, yaitu lapisan tanah teratas yang subur. Serasah juga menjadi rumah dari serangga dan berbagai mikro organisme lain. Uniknya, para penghuni justru memakan serasah, rumah mereka itu; menghancurkannya dengan bantuan air dan suhu udara sehingga tanah humus terbentuk.
Di bawah lantai hutan, kita dapat melihat akar semua tetumbuhan, baik besar maupun kecil, dalam berbagai bentuk. Sampai kedalaman tertentu, kita juga dapat menemukan tempat tinggal beberapa jenis binatang, seperti serangga, ular, kelinci, dan binatang pengerat lain. (www.google.com/www. Index_konservasi.co.id ; 14 jan 2010 jam 09:29)
Vegetasi merupakan suatu perkumpulan / komunitas tumbuhan yang mempunyai habitat masing-masing. Analisa vgetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Analisa vegetasi sebagai cara memepelajari komposisi jenis-jenis tumbuhan penyusun hutan dan struktur horizontal maupun vertical vegetasi serta masyarakat tmbuh-tumbuhan yang dilakukan secara kualitas dan kuantitatif. (Materi konservasi;MAPENSA. Hal:16)
Air menutupi lebih dari 70 % permukaan bumi, sifat-sifat fisika dan kimia air sangat penting dalam ekologi. Panas jenis serta panas penguapan air yang cukup tinggi berperan dalam pengaturan suhu organisme.
Habitat-habitat perairan dibagi dalam tiga kategori utama, yakni sistem air tawar, estuarin dan kelautan. Walaupun habitat air tawar menempati bagian nisbi kecil dari permukaan bumi dibandingkan dengan habitat lainnya, mereka sangat penting bagi manusia sebagai sistem pembuangan. Estuarin adalah zona peralihan antara air laut dan tawar, serta memiliki sifat yang unik.
Badan air tawar dibagi menjadi 2 kategori umum, yakni air diam seperti kolam dan danau, serta air mengalir seperti aliran dan sungai. Air diam digolongkan sebagai sistem lentik, sedangkan air mengalir disebut sistem lotik. Studi mengenai air tawar dikenal sebagai “limnologi”. Penelitian-penelitian badan air tawar mencakup kajian sifat-sifat kimia dan fisika dari air, serta tumbuhan dan hewan yang hidup di dalamnya, serta tata cara mereka berinteraksi. (P.Michael “ Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium : 132-133).
Kmunitas hewan yang sering dan mudah tampak adalah komunitas dari spesies burung. “Informasi tentang burung dapat digunakan sebagai salah satu penyadaran masyarakat tentang arti penting burung dan pelestarian burung sehingga konsep keseimbangan dan keberlanjutan kehidupan dipahami” Ika Linggar Wati Laporan kegiatan latihan gabungan konservasi pencinta alam SE-JATIM. Hal.63.
3.3 Deskripsi Kegiatan
Seperti yang telah dijelaskan di latar belakang bahwasannya kegiatan spesialisasi divisi adalah salah satu kegiatan yang bertujuan untuk melatih keilmuan anggota muda sebelum menuju ke anggota biasa. Sedangkan kegiatanya selalu mengacu kepada standarisasi yang ada.
3.4 Hasil Kegiatan
- Pengamatan Kawasan (Lampiran I)
- Analisa Air (Lampiran II)
- Analisa Vegetasi (Lampiran III)
- Analisa Burung (Lampiran IV)
- Identifikasi Tumbuhan Obat (Lampiran V)
BAB IV
PENUTUP
4.1. Evaluasi Pelaksanaan kegiatan
4.1.1. Hasil Kegiatan
- Explorasi atau analisa vegetasi tidak bisa menyeluruh
- Tidak bisa menentukan titik kordinat lokasi di peta
- Semua aplikasi hanya dilakukan sekali saja
- Sedikit banyak mengetahui struktur vegetasi di pegunungan wilis, kediri.
- Mengetahui akan halnya sumber mata air yang ada
- Identifikasi tumbuhan kurang bisa maximal serta pembawaan Sample.
4.1.2. Kendala
- Kekurangan anggota Team yang bisa maximal
- Kondisi medan yang kurang mendukung
- Keterbatasan Dana dan Waktu
- Tidak tersedianya Peta lokasi yang pass atau sesuai dengan rute perjalanan
- Kurangnya pendalaman & pembelajaran materi secara menyeluruh
- Keterbatasan Alat, Dll
4.2. Saran – saran
- Lebih memantapkan jauh-jauh hari lagi tentang pembelajaran konservasi
- Memaximalkan adanya Team.
- Berusahalah lebih baik dari hari kemarin & sekarang untuk bekal hari esok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
monggo sinau bareng