| Conture Depan |
| Pengamat |
| conture Kanan |
ANALISA AIR
Lokasi : Sungai lembah gunung wilis / aliran sungai dibawah kaki bukit G. Wilis
Ketinggian : 899 mDPL
Waktu : 08.45 WIB
Hari / tanggal : Minggu / 18 Oktober 2009
Cuaca : Cerah “hembusan angin sangat kencang
Pencatat data : Isnan Puspito Huntoro
A. Dasar Teori
Air menutupi lebih dari 70 % permukaan bumi, sifat-sifat fisika dan kimia air sangat penting dalam ekologi. Panas jenis serta panas penguapan air yang cukup tinggi berperan dalam pengaturan suhu organisme.
Habitat-habitat perairan dibagi dalam tiga kategori utama, yakni sistem air tawar, estuarin dan kelautan. Walaupun habitat air tawar menempati bagian nisbi kecil dari permukaan bumi dibandingkan dengan habitat lainnya, mereka sangat penting bagi manusia sebagai sistem pembuangan. Estuarin adalah zona peralihan antara air laut dan tawar, serta memiliki sifat yang unik.
Badan air tawar dibagi menjadi 2 kategori umum, yakni air diam seperti kolam dan danau, serta air mengalir seperti aliran dan sungai. Air diam digolongkan sebagai sistem lentik, sedangkan air mengalir disebut sistem lotik. Studi mengenai air tawar dikenal sebagai “limnologi”. Penelitian-penelitian badan air tawar mencakup kajian sifat-sifat kimia dan fisika dari air, serta tumbuhan dan hewan yang hidup di dalamnya, serta tata cara mereka berinteraksi. (P.Michael “ Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium : 132-133).
Habitat-habitat perairan dibagi dalam tiga kategori utama, yakni sistem air tawar, estuarin dan kelautan. Walaupun habitat air tawar menempati bagian nisbi kecil dari permukaan bumi dibandingkan dengan habitat lainnya, mereka sangat penting bagi manusia sebagai sistem pembuangan. Estuarin adalah zona peralihan antara air laut dan tawar, serta memiliki sifat yang unik.
Badan air tawar dibagi menjadi 2 kategori umum, yakni air diam seperti kolam dan danau, serta air mengalir seperti aliran dan sungai. Air diam digolongkan sebagai sistem lentik, sedangkan air mengalir disebut sistem lotik. Studi mengenai air tawar dikenal sebagai “limnologi”. Penelitian-penelitian badan air tawar mencakup kajian sifat-sifat kimia dan fisika dari air, serta tumbuhan dan hewan yang hidup di dalamnya, serta tata cara mereka berinteraksi. (P.Michael “ Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium : 132-133).
B. Tujuan
“Mengetahui kualitas dan kuantitas air pada ketinggian tersebut”
C. Alat dan Bahan
- Roll meter
- Stopwatch
- Thermometer
- Botol sample
- Pencatat data
- Kamera
D. Langkah Kerja
1. Tentukan titik plot area
2. Ambil gambar tentang lokasi
3. Ambil sample air
4. Ukur (panjang, lebar, dan kedalaman di tiap titik-titik) sungai, tergantung kebutuhan.
5. Hitung kecepatan air
6. Amati kondisi sekitar (tanah, vegetasi, hewan dll).
7. Catat semua data yang ada kemudian diolah.
E. Hasil dan Pembahasan
No. Plot Panjang / P (cm) lebar / d (cm) Kedalaman / h (cm) Σh (m) Kecepatan / v (m/dt)
h¹ h² h³
1 311 d¹ 133 10 10 8 0,093 0,8 cm / 3 dt
d² 255 4,5 22,5 12 0,13
d³ 112 9 23 11 0,143
Maka, untuk mengetahui debit (kuantitas) air kita juga harus mengetahui kecepatan aliran air yang masuk terlebih dahulu.
V : 0,8 cm / 3 dt = 0,26 m/dt
Untuk selanjutnya kita cari luas penampangnya,
A = h x d
Ket,
A : Luas penampang sungai (m²)
h : Tinggi / kedalaman sungai (m)
d : Lebar penampang sungai (m)
(MAPENSA; “Materi Konservasi”, Hal. 11)
maka, h = Σh1 + Σh2 + Σh3
3
= 0,93 + 0,13 + 0,143
3
= 1,23 / 3
= 0,40 m
d = d¹ + d² + d³
3
= 1,93 + 2,55 + 1,12
3
= 1,86 m
Maka, dapat diketahui : A = 0,40 x 1,86
= 0,74 m²
debit sungai tersebut adalah :
Q = A x V
Ket, Q : debit sungai (l / dt)
A : Luas penampang sungai (m²)
V : Kecepatan aliran sungai (m/dt)
(MAPENSA; “Materi Konservasi”, Hal. 11)
Q = A x V
= 0,74 m² x 0,26 m/dt
= 0,19344 m³/dt » Q = 193, 44 l/dt
3
= 1,93 + 2,55 + 1,12
3
= 1,86 m
Maka, dapat diketahui : A = 0,40 x 1,86
= 0,74 m²
debit sungai tersebut adalah :
Q = A x V
Ket, Q : debit sungai (l / dt)
A : Luas penampang sungai (m²)
V : Kecepatan aliran sungai (m/dt)
(MAPENSA; “Materi Konservasi”, Hal. 11)
Q = A x V
= 0,74 m² x 0,26 m/dt
= 0,19344 m³/dt » Q = 193, 44 l/dt
Kesimpulan :
Bahwasannya dalam penampang sungai tersebut selalu tersuplai air sebanyak 193,44 l/dt. Hasil ini diperoleh hanya untuk pengambilan area terkecil.
Pembahasan :
Dari kejadian yang ada pengukuran debit air tidak bisa maximal, ini disebabkan karena adanya faktor lingkungan yang kurang mendukung. Baik itu karena kondisi medan dan relief sungai juga karena banyak faktor lain-lain yang tidak kondusif (Angin & Vegetasi). Jadi, dalam uji lapangan ini hanya sebatas pemetaan kolam atau area terkecil sungai. Karena dengan area terkecil tersebut pengukuran mudah dijangkau dan diamati.
v Peninjauan Kualitas Air
Ø Peninjauan dari faktor-faktor lingkungan
a. Faktor Fisika
Suhu, sinar dan hantaran adalah beberapa faktor fisika yang biasanya diukur dalam setiap kajian limnologi (study mengenai air tawar). Sifat fisika lainnya seperti daya apung, tekanan, kekentalan dan tegangan permukaan tidaklah mudah untuk diukur, namun demikian memainkan peranan ekologi yang penting. Daya apung air dengan terjadinya dorongan keatas membantu hewan-hewan dan tumbuhan air untuk menopang bobotnya sendiri. karena air tak dapat ditekan, tak ada perubahan yang nyata dalam rapatan air dengan bertambahnya kedalaman. (P.Michael; “metode ekologi untuk penyelidikan ladang & labolatorium”. Hal : 133)
Bersumber dari keterangan diatas dapat diambil sedikit kesimpulan tentang kondisi air yang ada di pegunungan wilis tersebut bahwasannya sudah layak untuk di konsumsi. Ini juga dapat dibuktikan dari suhu lingkungan juga seimbang dengan suhu air, cuaca juga tidak berpengaruh terhadap perubahan air sungai tersebut. Tidak mengalami kekeruhan / perubahan yang berarti pada wujud air tersebut.
Kondisi suhu kadakalh dapat berubah, ini karena permukaan air saat meluas pada saat ia menjadi hangat. Perluasan ini mengurangi rapatan, dan membuat permukaan air menjadi lebih ringan daripada air yang ada dibawahnya yang lebih dingin. Lapisan air terbagi menjadi 3 bagian, yaitu :
1. Lapisan Epilimnion : lapisan paling atas
2. Lapisan Termoklin : lapisan peralihan / lapisan tengah
3. Lapisan hypolimnion : lapisan yang lebih dingin atau lapisan paling bawah.
Pembagian wilayah suhu yang demikian tentu saja tidak terjadi pada kolam / penampang yang sangat dangkal. Penampang yang berbeda juga untuk pembagian wilayahnya berbeda pula. (P.Michael; “metode ekologi untuk penyelidikan ladang & labolatorium”. Hal : 137)
b. Faktor Kimia
Dalam menganalisa air, faktor kimia juga sebagai penentu dan kualitas air. Faktor ini juga biasa dapat disebut sebagai unsur abiotik, semisal contoh : unsur Zn, N, Mg, dll. Untuk itu, sangat diperlukan dalam pengujian unsur kimia yang berarti dalam kualitas air tersebut. (MAPENSA; “Materi Konservasi”. Hal : 11)
Air sebagai pelarut yang baik bagi berbagai jumlah zat terlarut, jumlah zat terlarut dalam air biasanya berbeda dalam jumlah yang ada dalam tubuh organisme yang hidup dalam air. (P.MICHAEL; “Metode Ekologi Untuk Penyelidikan ladang dan labolatorium”. Hal :150)
Sedangkan dari kondisi lingkungan atau perairan yang ada di lokasi tersebut, unsur kima yang terkandung tidak begitu tampak mulai dari rasa, warna dan bau tidak terjadi perubahan yang begitu berarti. Jadi, dari situ dapat disimpulkan bahwa kualitas air ini layak untuk di konsumsi.
Kandungan kimia yang ada belum dapat diketahui secara pasti, karena keterbatasan alat dan perlu adanya pengujian labolatorium. Yang jelas itu ada kandungan kimianya tapi dengan kadar yang rendah dan tidak mempengaruhi kualitas air.
c. Faktor Biologi
Kalau yang aku amati dari kondisi lingkungan perairan disana, struktur tanah dalam air, langsung dapat disimpulkan bahwa air yang ada di perairan (kolam) masih layak untuk di konsumsi.
Mulai dari vegetasi yang hidup disana hanya ada vegetasi tingkat rendah / lumut (disekitar tepi-tepi sungai). Perdu, pisang (diatas area perairan). Kondisi tanah yang gembur serpihan batu kecil dan pembusukan daun) kondisi yang seperti ini tidak begitu mempengaruhi kekeruhan air dan kualitas air yang ada. Hewan yang hidup juga terdapat sejenis serangga air atau laba-laba air.
Sample air yang diambil dari lokasi tersebut juga tidak mengalami perubahan dari segi warna, bau dan rasa ketika disimpan dalam tutup yang rapat. Ini sudah membuktikan bahwasanya ditinjau dari faktor biologi, perairan di sungai tersebut layak untu di konsumsi.
Sebenarnya jika ingin mengetahui bentuk / kontur kedalaman suatu sungai atau kolam, kita harus mengukur kedalaman sungai di tiap centi meternya (selang yang cocok) sepanjang garis potong. Hubungkan titik kedalaman yang hampir sama. Jadi nantinya akan terbagi menjadi wilayah-wilayah kedalaman (kontur) dalam grafik.
(P.Michael; “metode ekologi untuk penyelidikan lapang & labolatorium. Hal :134)
Bahwasannya dalam penampang sungai tersebut selalu tersuplai air sebanyak 193,44 l/dt. Hasil ini diperoleh hanya untuk pengambilan area terkecil.
Pembahasan :
Dari kejadian yang ada pengukuran debit air tidak bisa maximal, ini disebabkan karena adanya faktor lingkungan yang kurang mendukung. Baik itu karena kondisi medan dan relief sungai juga karena banyak faktor lain-lain yang tidak kondusif (Angin & Vegetasi). Jadi, dalam uji lapangan ini hanya sebatas pemetaan kolam atau area terkecil sungai. Karena dengan area terkecil tersebut pengukuran mudah dijangkau dan diamati.
v Peninjauan Kualitas Air
Ø Peninjauan dari faktor-faktor lingkungan
a. Faktor Fisika
Suhu, sinar dan hantaran adalah beberapa faktor fisika yang biasanya diukur dalam setiap kajian limnologi (study mengenai air tawar). Sifat fisika lainnya seperti daya apung, tekanan, kekentalan dan tegangan permukaan tidaklah mudah untuk diukur, namun demikian memainkan peranan ekologi yang penting. Daya apung air dengan terjadinya dorongan keatas membantu hewan-hewan dan tumbuhan air untuk menopang bobotnya sendiri. karena air tak dapat ditekan, tak ada perubahan yang nyata dalam rapatan air dengan bertambahnya kedalaman. (P.Michael; “metode ekologi untuk penyelidikan ladang & labolatorium”. Hal : 133)
Bersumber dari keterangan diatas dapat diambil sedikit kesimpulan tentang kondisi air yang ada di pegunungan wilis tersebut bahwasannya sudah layak untuk di konsumsi. Ini juga dapat dibuktikan dari suhu lingkungan juga seimbang dengan suhu air, cuaca juga tidak berpengaruh terhadap perubahan air sungai tersebut. Tidak mengalami kekeruhan / perubahan yang berarti pada wujud air tersebut.
Kondisi suhu kadakalh dapat berubah, ini karena permukaan air saat meluas pada saat ia menjadi hangat. Perluasan ini mengurangi rapatan, dan membuat permukaan air menjadi lebih ringan daripada air yang ada dibawahnya yang lebih dingin. Lapisan air terbagi menjadi 3 bagian, yaitu :
1. Lapisan Epilimnion : lapisan paling atas
2. Lapisan Termoklin : lapisan peralihan / lapisan tengah
3. Lapisan hypolimnion : lapisan yang lebih dingin atau lapisan paling bawah.
Pembagian wilayah suhu yang demikian tentu saja tidak terjadi pada kolam / penampang yang sangat dangkal. Penampang yang berbeda juga untuk pembagian wilayahnya berbeda pula. (P.Michael; “metode ekologi untuk penyelidikan ladang & labolatorium”. Hal : 137)
b. Faktor Kimia
Dalam menganalisa air, faktor kimia juga sebagai penentu dan kualitas air. Faktor ini juga biasa dapat disebut sebagai unsur abiotik, semisal contoh : unsur Zn, N, Mg, dll. Untuk itu, sangat diperlukan dalam pengujian unsur kimia yang berarti dalam kualitas air tersebut. (MAPENSA; “Materi Konservasi”. Hal : 11)
Air sebagai pelarut yang baik bagi berbagai jumlah zat terlarut, jumlah zat terlarut dalam air biasanya berbeda dalam jumlah yang ada dalam tubuh organisme yang hidup dalam air. (P.MICHAEL; “Metode Ekologi Untuk Penyelidikan ladang dan labolatorium”. Hal :150)
Sedangkan dari kondisi lingkungan atau perairan yang ada di lokasi tersebut, unsur kima yang terkandung tidak begitu tampak mulai dari rasa, warna dan bau tidak terjadi perubahan yang begitu berarti. Jadi, dari situ dapat disimpulkan bahwa kualitas air ini layak untuk di konsumsi.
Kandungan kimia yang ada belum dapat diketahui secara pasti, karena keterbatasan alat dan perlu adanya pengujian labolatorium. Yang jelas itu ada kandungan kimianya tapi dengan kadar yang rendah dan tidak mempengaruhi kualitas air.
c. Faktor Biologi
Kalau yang aku amati dari kondisi lingkungan perairan disana, struktur tanah dalam air, langsung dapat disimpulkan bahwa air yang ada di perairan (kolam) masih layak untuk di konsumsi.
Mulai dari vegetasi yang hidup disana hanya ada vegetasi tingkat rendah / lumut (disekitar tepi-tepi sungai). Perdu, pisang (diatas area perairan). Kondisi tanah yang gembur serpihan batu kecil dan pembusukan daun) kondisi yang seperti ini tidak begitu mempengaruhi kekeruhan air dan kualitas air yang ada. Hewan yang hidup juga terdapat sejenis serangga air atau laba-laba air.
Sample air yang diambil dari lokasi tersebut juga tidak mengalami perubahan dari segi warna, bau dan rasa ketika disimpan dalam tutup yang rapat. Ini sudah membuktikan bahwasanya ditinjau dari faktor biologi, perairan di sungai tersebut layak untu di konsumsi.
Sebenarnya jika ingin mengetahui bentuk / kontur kedalaman suatu sungai atau kolam, kita harus mengukur kedalaman sungai di tiap centi meternya (selang yang cocok) sepanjang garis potong. Hubungkan titik kedalaman yang hampir sama. Jadi nantinya akan terbagi menjadi wilayah-wilayah kedalaman (kontur) dalam grafik.
(P.Michael; “metode ekologi untuk penyelidikan lapang & labolatorium. Hal :134)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
monggo sinau bareng